KUNJUNGAN WHO UNTUK EVALUASI RPAM PDAM KOTA MALANG

 

Malang, 14 Oktober 2017

RPAM merupakan usaha pencegahan, perlindungan, serta pengendalian pasokan air minum bagi masyarakat Indonesia.  RPAM merupakan adopsi dari konsep Water Safety Plan milik World Health Organization yang mengamankan air minum melalui pendekatan manajemen risiko. Konsep ini dilakukan dengan sistem dinamik yang diawali dengan mengidentifikasi risiko dari hulu sampai ke tangan konsumen dan selanjutnya dapat ditentukan tindakan pengendaliannya. Secara umum RPAM diharapkan dapat meningkatkan pelayanan air yang lebih baik di seluruh Indonesia dan dapat menjamin terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Untuk mengantispasi berbagai permasalahan dalam penyediaan air minum di masa datang, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menjalankan program pengamanan air minum yang dapat menjamin penyediaan air minum yang berkelanjutan. Konsep dalam rangka perlindungan sumber air baku itu adalah Water Safety Plan atau Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) yang awalnya dikembangkan WHO dan telah banyak diadopsi banyak negara, termasuk Indonesia.  Konsep Water Safety Plan (WSP) atau RPAM adalah pengendalian kualitas pelayanan air minum dari hulu hingga hilir dengan mempertimbangkan hasil dari proses manajemen resiko. Di Indonesia, RPAM dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu RPAM untuk adanya resiko pada sumber air, RPAM untuk penyelenggara SPAM (operator), RPAM untuk komunitas, dan RPAM bagi konsumen.

Konsep RPAM sangat bermanfaat bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), karena dokumentasi proses teknis menjadi lebih jelas alurnya (rantai pasok), dan semua resiko yang mungkin ada dapat diantisipasi. Sehingga manajemen resiko dapat diterapkan, termasuk menterpadukan banyak program dan bagian di PDAM. Selanjutnya PDAM dengan mudah dapat menyusun program ke depan yang bertujuan untuk menjamin pelayanan yang memenuhi 4K atau kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan.

Bertempat di kantor pusat PDAM Kota Malang di Jl. Terusan Danau Sentani No.100 Malang, selama 4 hari dimulai dari tanggal  10 sampai dengan 14 Oktober 2017, diadakan monitoring evaluasi RPAM oleh badan WHO untuk memberikan acuan kepada PDAM Kota Malang bagaimana mengelola RPAM yang baik dan sesuai standart yang ditentukan. Wakil dari WHO, Asoka mengaku senang bisa bertemu lagi dengan tim RPAM PDAM Kota Malang. Pria berkebangsaan Bangladesh ini juga menghimbau para instruktur untuk bekerja lebih keras lagi dalam mengembangkan alat pengembangan resiko. Kunjungannya kali ini juga bertujuan untuk memberikan masukan-masukan untuk peningkatan serta penyempurnaan system RPAM yang sudah berjalan di PDAM Kota Malang agar bisa lebih baik dan bisa menjadi percontohan bagi PDAM yang lain karena menurutnya PDAM Kota Malang memiliki potensi dan model aplikasinya sudah sangat baik.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua DPP PERPAMSI Jakarta Bapak. Ashari. Beliau menyampaikan bahwa saat ini masih ada sekitar 20% PDAM yang masuk dalam kategori PDAM sakit. Sedangkan yang bisa dikatakan PDAM sehat sekitar 53% termasuk PDAM Kota Malang. Dengan adanya kunjungan WHO kali ini, diharapkan nantinya PDAM Kota Malang bisa memberikan ilmunya “sharing knowledge” kepada PDAM-PDAM lainnya di Indonesia. Beliau juga berharap PDAM Kota Malang akan lebih terbuka untuk menerima Tamu-tamu yang berkunjung untuk berbagi ilmu tentang pengelolaan System Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) ini. 

-humaspdamkotamalang-